Ibu Pendidik Utama
Dalam perjalanan saya berkeliling dari satu madrasah ke madrasah lain, ada satu pemandangan yang selalu membuat saya tersentuh: senyum seorang guru perempuan yang tetap hangat meski ia mungkin baru saja berjibaku dengan urusan dapur dan tangisan anaknya di rumah. Di momen Hari Ibu 2025 ini, saya ingin mengajak kita semua merefleksikan kembali makna "Ibu" bukan hanya sebagai sebutan keluarga, melainkan sebagai sebuah institusi pendidikan yang paling murni.
Ada sebuah pepatah Arab yang sangat masyhur, "Al-Ummu madrasatul ula", artinya Ibu adalah sekolah pertama. Kalimat ini bukan sekadar kiasan. Bagi seorang anak, ibu adalah kurikulum kehidupan yang pertama mereka baca. Dari ibulah seorang anak belajar tentang kejujuran, kasih sayang, hingga cara bersujud kepada Sang Pencipta. Jika fondasi di "madrasah pertama" ini kokoh, maka tugas kami di madrasah formal akan menjadi jauh lebih ringan.
Perjuangan Dua Sisi
Sebagai pengawas, saya sering menyaksikan betapa luar biasanya dedikasi para ibu yang juga menjadi guru madrasah. Saya melihat mereka datang pagi-pagi sekali, membawa tas berisi tumpukan buku tugas murid, sementara di kepalanya masih tersimpan daftar belanjaan dan jadwal imunisasi anaknya dan berbagai persoalan rumah btangga lainnya.
Mereka adalah pahlawan yang menjahit dua dunia. Di madrasah, mereka adalah ibu bagi ratusan murid, mendengarkan keluh kesah anak- anak yang sedang mencari jati diri, dan menanamkan akhlakul karimah dengan penuh ketelatenan. Di rumah, mereka kembali menjadi pelita bagi keluarga. Tidak jarang, energi mereka terkuras habis, namun mereka tetap memilih untuk bertahan dalam pengabdian ini karena mereka tahu: mendidik adalah investasi akhirat.
Menghargai Para Pendidik
Esensi Hari Ibu tahun 2025 ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk lebih "memanusiakan" para ibu pendidik ini. Kita tidak boleh membiarkan mereka berjuang sendirian di bawah beban ekspektasi yang tumpang tindih.
Menghargai mereka berarti memberikan dukungan sistem yang baik di madrasah. Menghargai mereka berarti memberikan ruang bagi mereka untuk tetap bertumbuh secara profesional tanpa melupakan kebahagiaan pribadinya. Sebagai pengawas, saya belajar bahwa keberhasilan sebuah madrasah seringkali ditentukan oleh kesejahteraan batin para ibu guru yang mengajar di dalamnya. Jika hati seorang ibu guru bahagia, maka suasana belajar di kelas pun akan terasa seperti di rumah sendiri.
Doa untuk Para Guru
Hari Ibu bukan sekadar perayaan setahun sekali dengan pemberian kado atau ucapan di grup percakapan. Makna sejatinya adalah pengakuan tulus atas lelah yang tak pernah mereka keluhkan.
Untuk para ibu di rumah, terima kasih telah menjadi madrasah terbaik bagi anak-anak kita. Dan secara khusus untuk para ibu guru di madrasah se-Indonesia, terima kasih telah menjadi ibu kedua bagi generasi bangsa. Keikhlasan Anda dalam mengajarkan alif, ba, ta, serta nilai-nilai kebaikan adalah amal jariyah yang takkan pernah putus.
Mari kita rayakan Hari Ibu dengan komitmen untuk terus memuliakan mereka, setiap hari, di setiap langkah pengabdian kita.
“ Selamat Hari Guru untuk semua penjaga pelita, semoga lelahmu tercatat menjadi ibadah dihadapan Allah SWT ”

.jpg)




