KARYA SISWA

Dipublikasikan 04 Nov 2025, 12:57:25 WIB - Oleh Admin Web

KARYA SISWA

Madrasahku

Oleh: Alena Khaeral Muna

 

 

Saat Mentari Mulai Muncul

Kutapakkan kaki di depan gerbangmu

Dengan semangat kudatang

Untu belajar dan menntut ilmu

 

Tanpamu kutak tahu apa tujuanku

Ingin ku nomor satu dan jadi yang terbaik

Inginku beriman dna berakhlak

Mungkin jika tak ada “Madrasah”, ku tak jadi apapun

 

Terimakasih Madrasahku

Menjadi sarana pendidikanku

Agar kelak aku akan berguna

Bagi agama, nusa, dan bangsa

 

PETUALANGAN SEPEDA MENUJU RUMAH NENEK

Karya : Karya : AFAREEN LABIQA ZHARUFA Z

Pagi itu, matahari bersinar cerah. Aliya sedang duduk di ruang tamu sambil memandangi surat dan gambar bunga matahari yang kemarin ia buat untuk neneknya. Sudah berbulan-bulan Aliya tidak berkunjung ke rumah nenek yang tinggal di desa sebelah. Biasanya, ia pergi bersama orang tuanya setiap akhir pekan. Tetapi belakangan ini, orang tuanya sibuk bekerja.

"Bagaimana jika aku antar sendiri surat dan gambar bunga matahari ini naik sepeda?" gumam Aliya dalam hati. Ia tahu jalan ke rumah neneknya karena pernah melewatinya beberapa kali. Jaraknya memang agak jauh, tetapi Aliya merasa bahwa ia mampu.

Aliya segera menyiapkan ransel kecil berisi botol minum, roti isi, dan tentu saja surat serta gambar bunga mataharinya. Dengan semangat, ia berpamitan kepada ibunya yang sedang memasak di dapur.

"Ibu, aku mau main sepeda agak jauh ya, ke arah sawah," kata Aliya.

"Jangan terlalu jauh, ya. Hati-hati di jalan," jawab ibu sambil tersenyum.

Aliya hanya mengangguk, lalu melaju dengan sepedanya. Dalam hatinya, ia sudah berniat untuk pergi sampai ke rumah nenek. Ia ingin membuat kejutan.

Perjalanan dimulai dengan lancar. Jalan kampung yang dilalui cukup sepi, hanya ada beberapa anak kecil yang bermain layang-layang dan petani yang sibuk di sawah. Aliya menikmati pemandangan hijau dan suara burung yang berkicau. Ia merasa bebas dan bahagia.

Namun, baru setengah jam mengayuh, ia merasa sepedanya goyang. Saat melihat ke belakang, ternyata ban belakangnya bocor.

"Aduh, kenapa harus sekarang?" keluh Aliya.

Untungnya, di tepi jalan, ia melihat papan kecil bertuliskan "Tambal Ban Pak Minto." Lalu, ia mendorong sepedanya pelan-pelan ke bengkel kecil itu. Pak Minto, si tukang tambal ban, tersenyum ramah.

"Wah, bocor ya? Sini, Bapak bantu," kata Pak Minto.

Sambil menunggu, Aliya memperhatikan cara Pak Minto menambal ban. Ia jadi tahu cara mencari lubang pada ban dan menambalnya dengan lem khusus.

"Terima kasih ya, Pak. Saya jadi belajar sesuatu hari ini," kata Aliya.

Pak Minto hanya tertawa dan memberi semangat.

"Hati-hati di jalan, Nak," ucap Pak Minto.

Perjalanan dilanjutkan. Di tengah jalan, Aliya mendengar suara anak kucing mengeong. Ia berhenti dan melihat seekor kucing kecil sedang terjebak di got kecil. Aliya pun perlahan turun dan mengangkat kucing itu dengan hati-hati. Setelah membersihkannya sedikit, ia mencari rumah terdekat dan menitipkan kucing itu kepada seorang ibu-ibu baik hati.

"Terima kasih ya, Nak. Kucing ini sering main ke sini, mungkin tadi kejeblos," kata ibu itu. Tak lama setelah itu, Aliya bertemu seorang kakek tua yang berdiri di pinggir jalan sambil melihat-lihat ke arah rumah-rumah.

"Permisi, Dik. Apakah kamu tahu rumah Pak Heri? Saya saudaranya dari kota, tapi lupa jalan menuju rumah Pak Heri," tanya kakek itu.

Aliya teringat pernah mendengar nama tersebut. Ia pun menawarkan untuk menemani si kakek sampai bertemu dengan warga yang tahu rumah Pak Heri. Setelah bertemu dengan seorang pedagang bakso yang mengenal Pak Heri, sang kakek akhirnya bisa melanjutkan perjalanan.

"Hati-hati ya, anak baik. Semoga harimu menyenangkan," kata si kakek sambil tersenyum.

Langit mulai mendung. Saat Aliya melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Ia segera berteduh di sebuah warung kecil. Di sana, ia meminum air di botolnya dan menyantap roti isi yang ia bawa. Setelah menunggu agak lama, akhirnya hujan pun mulai reda. Meski bajunya sedikit basah, Aliya tetap melanjutkan perjalanan.

Akhirnya, setelah lebih dari dua jam, ia sampai di depan rumah nenek. Nafasnya terengah-engah, tetapi wajahnya penuh senyum. Nenek yang sedang menyapu halaman terkejut melihat kedatangan Aliya.

"Aliya, kamu ke sini sendiri?" tanya nenek terharu.

Aliya langsung memeluk nenek dan mengeluarkan surat serta gambar bunga matahari.

"Ini untuk Nenek. Aku kangen sekali," katanya.

Nenek pun menangis terharu. Mereka masuk ke dalam rumah dan makan siang bersama. Aliya menceritakan semua hal yang terjadi. Nenek tersenyum mendengarkan dan bangga dengan cucunya yang berani dan baik hati.

Sorenya, Aliya tidak pulang menaiki sepeda lagi, tetapi dijemput oleh ayahnya. Itu adalah petualangan tak terlupakan bagi Aliya.